Kamis, 10 Juli 2014

Cinta dan Benci


I am give up.
Surrender.
White flag.
Whatever you named it.
Arinda. Dialah aku Si Pemain Cinta yang ulung. Tak ada laki-laki yang tak bertekuk lutut pada pesonaku. Tak ada mukut laki-laki yang tak menyebut betapa tanpa cacatnya wajahku. Tapi.. Tapi.. Tapi dia..!!
"Gue juga heran deh sama lo, lo kan nggak kekurangan penggemar, Dindaaa.. kenapa sih masih ngejar-ngejar dia??!!" Arimbi sahabatku, bertanya gemas.
Kenapa? Aku mempertanyakan diriku sendiri.
Mungkin karena.. ah.. nggak mungkin lah.
"Dinda.. Dinda.. apa sih yang kurang dari cowok-cowok itu? Kenapa lo malah melihat orang yang nggak pernah melihat lo." Lala, sahabatku yang lain ikut menyumbang suara.
Aku.. Kenapa? Aku hanya.. Aku hanya tak bisa mengeyahkan dia dari pikiranku. Tak bisa melupakan senyumannya yang manis. Sungguh aku tak bisa..
Mungkin, karena dia.. dia membuat aku merasakan sesuatu yang tidak aku rasakan pada orang lain.
"Diiiindaaa!! Lo nembak Bayu ya? Astaga.. lo tuh ya.. nekat banget!" Arimbi kaget setengah mati.
"Terus Bayu bilang apa? Apa jawaban dia?"
Aku diam dan mengeleng lemah.
"Lo di tolak? Seorang Arinda di.. to.. lak." Lala merumuskan kediamanku.
"Gila tuh cowok.." Arimbi tak abis pikir.
Aku hanya tetap diam. Sakit. Jauh di dalam. Walaupun jawaban yang Bayu berikan sakit, aku tetap tak bisa membenci dia. Dia masih orang yang membuat aku merasa... jatuh.
"Dia.. nggak salah, Mbi, La.." Aku menyahut pelan.
"Lo masih belain dia?" Arimbi emosi.
"Kalian harus tahu.. Dia.. Dia.. suka orang lain.."
"Siapa? Perempuan mana?"
Aku menggeleng. "Bukan.. bukan perempuan.. Dia suka Anton.. mahasiswa teknik mesin itu.."
Itulah.. kenapa aku menyerah..








Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program dari di Facebook dan Twitter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar