Le Bonheur Est Appelée Une Famille
The happiness is called a family
“KOMAAANG...!!!” Teriakan
itu membuat seorang wanita separuh
baya lari tergopoh-gopoh.
“Ana apa tho, Geg?
Kok pagi-pagi sudah teriak-teriak?” Wanita itu memandang cemas kepada seorang anak
perempuan yang sedang membereskan tas sekolahnya.
“Mboook- Si Komang nakal. Gambar Luh dicoret-coret.”
Dengan tanggannya yang kecil, Luh memperlihatkan gambar sebuah pemandangan kota
yang indah. Tapi sekarang, gambar itu tertutup hampir sepenuhnya dengan coretan
crayon hitam.
“Gus, nggak
boleh begitu sama Kakak dong.” Mbok menegur anak laki-lakinya yang hanya
tertawa senang melihat hasil kerjanya. Dia tidak tahu bahwa nasib kakaknya hari
itu tergantung dari hasil gambarnya. Gambar itu harus diserahkan sebagai tugas
tambahan di sekolah.
“Sudah, ndak usah
nangis. Jegeg bilang saja yang
sebenarnya sama ibu guru ya. Mbok yakin ibu guru pasti bisa mengerti.” Mbok tersenyum
manis sambil mengusap-usap rambut putrinya dengan sayang. Air mata yang tadi
sudah mendesak di pelupuk mata tidak jadi keluar. Luh mengangguk kecil.
Pertanda setuju dengan saran Mboknya.
*****
LUH
MEMANDANG KEJAUHAN. Pada laut yang
terhampar di depannya. Saat-saat seperti ini, Luh disesaki perasaan kangen. Luh
kangen pada Aji-ayahnya. Ajinya yang sudah lama pergi.
“LaLuna, udah
selesai gambarnya? Kok melamun?” Sosok Mahesa menjulang di hadapan Luh. Luh
tersenyum.
“Udah kok. Ini.” Mahesa memandang gambar Luh.
“Perancis lagi? Kamu memang berniat pergi ke sana ya?”
Masih memandangi gambar Menara Eiffel Luh, Mahesa duduk disebelahnya.
“Hmm.. mungkin suatu saat nanti aku mau pergi ke sana.
Mau lihat Perancis itu seperti apa. Mbok bilang, kota itu sangat indah.”
“Mbok kamu pernah ke sana ya?”
“Belum. Tapi ceritanya tentang Perancis sunggguh menakjubkan.”
“Ooh..” Mahesa tersenyum. Kalau sedang berbicara tentang Perancis, wajah Luh jadi terlihat berbinar-binar. Di mata Mahesa, Luh tampak cantik sekali.
“Ooh..” Mahesa tersenyum. Kalau sedang berbicara tentang Perancis, wajah Luh jadi terlihat berbinar-binar. Di mata Mahesa, Luh tampak cantik sekali.
“Halo. Ya, Mbok. Apa? Oh.. Iya. Iya. Luh segera pulang.
Nggak, udah selesai kok kuliahnya.” Luh menutup telponnya dan memandang Mahesa.
“Hesa. Maaf ya, aku harus pulang. Mbok butuh bantuan di
rumah.” Lalu tanpa menunggu jawaban Hesa Luh segera berdiri dan pergi.
“Eh, Lun! Gambarnya?”
“Ambil aja. Buat kamu.” Luh balas berteriak tanpa
menoleh. Sejak hari itu, ada gambar Menara Eiffel berbingkai kayu di kamar
Mahesa.
Mbok menelepon Luh karna Komang, adik Luh kambuh lagi.
Dia menjerit-jerit dan menendang-nendang ke segala arah. Mbok sudah berusaha
menenangkan, tapi sekarang badan Komang sudah lebih besar dari Mbok. Jadi,
sulit sekali untuk menahan Komang yang sedang tantrum. Untung Luh cepat datang.
Tak lama datang juga Aji- paman- Agung dan Astre. Satu jam kemudian, Komang
sudah tenang dan tertidur.
“SUDAH ADA KABAR
DARI LEONARD?”
Malam ini Aji Agung menginap. Aji Agung adalah adik Mbok
satu-satunya. Dia belum mau menikah, padahal usianya sudah lewat setahun dari
angka tiga puluh.
“Belum. Aku sudah mengirim kartu pos. Tapi yang terakir
belum di balas?” Luh tidak bermaksud menguping, tapi sebuah kata “Leonard”
mengusik hatinya. Siapa sih Leonard itu?
“Luh, tolong bantu aku melukis menara Eiffel ini dong..”
Jantung Luh hampir copot mendengar suara adiknya di belakangnya.
“Astre!” Teriak Luh lirih. Takut ketahuan Mbok dan Aji
kalau dia menguping.
“Ayo dooong. Buat tugas nih..” Akhirnya Luh mengiyakan
permintaan Astre untuk membantunya mengerjakan lukisan itu.
LEONARD. Siapa dia? Kok Aji dan Mbok rasanya menyembunyikan
sesuatu.
“Lun..” Luh terlonjak.
“Eeeh.. maaf, kamu kaget ya?” Wajah Mahesa dilapisi rasa bersalah.
“Hehe.. nggak kok. Aku aja yang lagi ngelamun.”
“Kamu lagi mikirin apa sih? Mbok kamu atau adik kamu?”
“Nggak apa-apa kok. Cuma lagi kepikiran Si Mbok aja.”
“O ya, soal Mbok kamu, kemarin kenapa?”
Pertanyaan Mahesa membuat Luh salah tingkah. “Eh.. eh..
nggak apa-apa kok. Eh, Hesa, aku pergi dulu ya. Aku lupa Mbok nitip sesuatu
tadi. Byee..”
“Lun.. tunggu! Aku mau...” Belum selesai kalimat Mahesa,
Luh sudah berlari menjauh. “... mau ngajak kamu makan bareng.” Akhirnya Mahesa
menyelesaikan kalimatnya sendiri dengan lirih.
PANTAI. Selalu membuat Luh terpesona. Dan laut selalu mempunyai
kekuatan magis untuk memangilnya datang dan datang lagi. Untungnya Luh tinggal
di Bali, di mana pantai dan laut adalah surga yang bisa ditemukan di setiap
sudut kotanya. Luh memandang ke belakangnya. Sejauh mata memandang ada hamparan
pasir putih yang indah. Di kejauhan, dekat dengan pinngir laut nampak janur
perkawinan khas Bali- payung bersusun tiga bernuansa emas dengan ukuran makin
mengecil ke atas. Hamparan kelopak mawar merah dan pink di tengah-tengah menjadi
sebuah karpet cantik sepanjang tiga meter. Di ujung hamparan karpet bunga itu,
ada sebuah lengkungan setengah lingkaran penuh rangkaian bunga lily serta altar
sederhana bertaplak kain putih . Kursi-kursi kayu yang unik tertata rapi di
sisi kiri dan kanannya. Akan ada sebuah pernikahan. Luh tahu dari seorang turis
yang menanyakan alamat tempat ini padanya. The Bay Bali. Tempat ini memang
menawan. Luh tak pernah bosan kembali kemari. Bli Widana- Manajer hotel membiarkan
Luh bebas ‘keluyuran’ di sekitar area The Bay Bali, karna Luh sering membawa
turis-turis asing ke sini- kalau kebetulan dia jadi tour guide dadakan di biro
travel milik Aji Agung. Terkadang, Luh juga membantu Bli Widana mempersiapkan
event-event yang didakan di situ. Seperti Sunday Market kemarin- yang menyedot
banyak turis asing- beberapa lukisan yang dipajang di pohon sepanjang pantai
adalah hasil karya Luh dan Mahesa. Hmm..ini
memang tempat yang tepat untuk
pernikahan romantis a la Bali, batin Luh.
“Eh.. kamu sudah tahu? Mister Leonard mau kembali lagi.”
“Mister Leonard yang itu?”
“Iya. Dengar-dengar dia mau memperistri-...”.”
“Hush. Jangan
ngomong sembarangan. Itu cuma gosip.”
Dua perempuan Bali itu pergi sambil membawa canang sari- bunga sajen untuk
sembahyang- tapi kata-kata mereka tetap melekat di pikiran Luh. Leonard. Mister
Leonard. Siapa sih dia? Ada hubungan apa
dia dengan Mbok dan keluargaku?
*****
“VERS QUEL RESTAURANT BEBEK
BENGIL?”
“Allez tout droit et tourner à gauche après le parc.”
“Merci.”
“De rien.”
“Duuh, yang bahasa Perancisnya
makin fasih.” Luh menoleh dan mendapati Mahesa tengah nyengir lebar padanya.
“Hahaha.. biasa aja. Mereka
tanya di mana restoran Bebek Bengil. Ya, aku kasih tahu dari sini lurus aja
terus belok kiri setelah ketemu taman.” Luh baru saja mengantar sepasang turis Perancis
ke area The Bay Bali, mereka mau mencoba restoran Bebek Bengil di situ. Katanya
mereka dapat rekomendasi dari temannya yang sudah lebih dulu mampir ke situ.
“Jago.” Mahesa sambil masih
tetap nyengir menaikkan jempol kanannya pada Luh.
“Apaan sih..” Luh meninju
pelan bahu Mahesa sambil tertawa. Luh juga tak sepenuhnya mengerti kenapa
bahasa Perancis begitu tidak asing di telinganya. Dan sepertinya memori
otakknya juga facile- mudah- mengenali bahasa itu dengan baik.
“Eh.. ada proyek lukisan nih
dari Bli Widana buat Sunday Market bulan ini.”
“Asyiik..” Luh sangat suka
Sunday Market. Selain bisa memajang lukisannya, Luh juga bisa mendapat
pernak-pernik khas Bali yang dijual di acara itu.
“Nanti aku ke rumahmu ya. Aku
mau ketemu Bli dulu.” Mahesa pamit dan pergi. Luh memandang langit senja Bali. Penuh
dengan warna jingga yang cerah.
Ah. Sudah waktunya pulang juga.
“MBOK...” Mboknya yang sedang sibuk menata canang sari hanya
menggumam pelan. Tanda bertanya ada apa?
“Mbok pernah dengar nama
Mister Leonard?” Sekilas reaksi Mbok tak kentara. Tapi tangannya yang memengang
canang sari gemetar.
“Pernah...” Suara Mbok lirih
dan serak.
“Itu siapa sih, Mbok? Kok
akhir-akhir ini Luh sering dengar nama itu?” Mbok membuat suara berdehem.
“Ehm, Luh.. coba tolong
ambilkan dupa harum di atas meja.” Luh ingin protes. Pertanyaannya belum
terjawab. Tapi, sikap Mbok yang serius menunduk dalam di atas canang sarinya
membuat Luh terpaksa menurut. Walaupun dia semakin heran. Kenapa sikap Mbok jadi begitu?
“Kok kamu malah ketawa sih?
Astre!” Untuk mencapai meja yang dimaksud Mbok, Luh harus melewati bale-bale di
ruang keluarga. Ada adiknya- Kadek Ariaduta Astre- dan pacarnya yang memang ayu-sesuai
namanya. Ni Made Ayu Widita.
“Hahaha.. abis mau ngapain
lagi. Toh memang udah begitu orangnya.” Kepo.
Kata-kata yang tepat buat Luh saat ini. Hehe.. Dia berhenti sebentar untuk
mendengar kisah Astre.
“Hhhhh.. iya juga sih. Si Made
emang dari dulu iri banget sama kamu, karna kamu rangking dua terus dan dia
cuma rangking tujuh. Tapi, kok kamu nggak pernah marah sih sama dia? Dia kan
suka bikin kamu susah di sekolah? Kamu happy-happy
aja.” Ooh.. jadi ini tentang Si Made itu
toh. Luh suka mendengar cerita Widita kalau Made ini teman mereka di
sekolah, sewot berat sama Astre.
“Dita.. Dita.. kayak nggak ada
hal lain yang harus aku pikirin ketimbang mikirin Si Made itu.”
Widita meangkul bahu Astre
lembut, “Kamu mikirin Aji-ayah- kamu sama Komang ya?” Sekilas, wajah Astre
berubah mendung. Tapi dia tersenyum saat menjawab pertanyaan Widita.
“Iya. Tapi, aku percaya Tuhan
pasti punya rencana buat aku dan keluargaku. Dan itu pasti rencana yang
terbaik. Kebahagian itu berasal dari dalam, Dit. Bukan dari apa yang terjadi di
luar kita. Bukan dari bagaimana orang lain memperlakukan kita, tapi bagaimana
kita memilih untuk tetap merasa bahagia.” Astre mengacak pelan rambut Widita
yang hitam panjang. Bisa aja Si Astre,
pikir Luh. Luh dan dua adiknya memang sudah kehilangan sosok Aji sejak mereka
kecil. Kata Mbok Aji sudah pergi ke surga bersama bintang-bintang. Dan memang
Astre tidak pernah menjadikan itu beban. Kalaupun dia pernah sangat merindukan Ajinya,
dia tak pernah memperlihatkannya. Sebagai satu-satunya cowok yang bisa
diandalkan dalam keluarga, dia tumbuh jadi pribadi yang kuat dan ramah.
“Aduuh!!.. Aduuh.. Ampuun.”
“Hiiiiiyaaaaatttt!! Pukul
yaa.. Pukul! Di pukul ya!” Teriakan dari ruang depan sontak membuyarkan lamunan
semua orang. Luh, Astre, Widita dan Mbok lari ke luar rumah. Mahesa sedang dikejar-kejar
sesosok pemuda yang mirip Astre sedang memengang sapu ijuk adalah pemandangan
yang menyambut mereka di luar.
“Mahesa!” Teriak Luh.
“Oh.. hai, Lun. Ini siapa ya?”
Mahesa berusaha menyapa di tengah-tengah aksi pelariannya dari kejaran Komang. Adalah
Astre yang mengambil tindakan pertama.
“Komang!” Astre memanggil
kembarannya. Komang, karena dia adalah anak ke-tiga. Dia lahir tiga menit
setelah Astre. Begitu melihat Astre, Komang berhenti mengejar Mahesa dan lari
menghampiri Astre.
“Astre.. Astre.. Komang mau
main. Main ya. Main. Sama Dita ya. Main ya..” Astre mengambil sapu dari tangan
Komang dan tersenyum.
“Iya. Main. Ayuk masuk. Tapi
Komang minta maaf dulu sama Bli.” Astre menunjuk Mahesa yang sudah agak tenang
setelah berlari-lari kecil tadi.
“Maaf, Bli..” Komang
mengulurkan tangan sambil menatap Mahesa dengan tatapan anak kecil yang baru
saja ketahuan nakal.
“Iya. Daa daa Komang.” Mahesa
menerima uluran tangan Komang sambil tersenyum.
“JADI ITU ADIK KAMU??”
Hanya anggukan kecil yang
menjawab pertanyaan Mahesa.
“Kok kamu nggak pernah cerita
ke aku, Lun?” Untuk yang ini, Luh cuma terdiam.
“Hesa.. kamu mau apa ke sini?”
Di tanya balik begitu, Mahesa kaget. Tapi dia cepat mengendalikan diri.
“Aku mau ngomongin soal Sunday
Market besok, tapi kayaknya kamu lagi sibuk. Besok aja di kampus kita
ngomongnya.” Dan Mahesa pun beranjak pergi.
“Jegeg..” Mbok selalu memangil
Luh Jegeg- yang artinya anak perempuan yang ayu. Setelah Mahesa pergi, Mbok
duduk di sebelah Luh. Mengusap-usap rambut panjangnya.
“Kamu malu sama Komang?”
Pertanyaan Mbok yang halus serasa bagai seribu tikaman pisau di hati Luh. Luh cuma
bisa menjawab dengan gelengan kepala dan air mata. Mbok masih tersenyum dan
mengusap-usap rambut Luh. Luh memang sering merasa kesal pada Komang yang sering
bertingkah aneh. Mematikan lampu
tiba-tiba saat Luh sedang mandi atau membuka kamar Luh tanpa permisi. Meskipun
tak pernah Luh berpikir dia malu punya adik seperti Komang, tapi, mungkin
sikapnya pada Komang selama ini menunjukkan sebaliknya. Sedangkan Astre, tak
pernah dia kesal. Dia selalu terlihat ceria dengan keadaan adik kembarnya.
“Nama Luh Putu LaLuna, Kadek
Wiriaduta Astre dan satu lagi, Komang Ariaduta Arion itu dari bahasa Perancis,
artinya bulan, bintang dan fajar dari timur. Ayahmu dan temannya yang
memberikan nama itu. Katanya sebagai harapan bahwa kelak kalian akan bisa
menerangi banyak hati.” Luh baru tahu arti namanya dan adik-adiknya. Selama ini
dia hanya bertanya-tanya kenapa nama mereka agak ‘tidak biasa.’
“Komang didiagnosis autis saat dia berusia
tiga tahun. Waktu itu kamu umur enam tahun. Dan kamu suka dibuatnya kesal.”
Mbok tersenyum sendiri. Memorinya kembali ke masa-masa dulu. “Komang paling
sayang sama kamu. Kalau Astre sakit, dia akan menangis seharian. Tapi kalau
kamu yang sakit, dia akan duduk di kursi di sebelah kamu, diam saja. Nggak mau
makan, nggak mau minum. Dan nggak ada yang boleh menganggu kamu- bahkan Mbok
aja nggak boleh pegang kamu.” Mbok tertawa lagi. “Ajaibnya, kamu sembuh tanpa
obat, seolah-olah Komang punya mantra ajaib untuk kamu.” Luh tersenyum. Sebuah
film usang diputar lagi di otaknya.
“Leonard.. dia teman ayahmu.
Dia yang mengajari kamu dan Ajimu bahasa Perancis dan juga cara melihat
bintang. Saat itu, si kembar baru berusia satu tahun, jadi cuma kamu yang
diajari bahasa Perancis. Saat Aji meninggal, Leonard menawarkan diri menjadi
suami Mbok supaya kita bisa ikut dia ke Perancis dan Komang bisa mendapat
perawatan yang lebih baik. Tapi, Mbok menolak. Leonard menghormati keputusan
Mbok. Sampai saat ini dia masih memberikan bantuan pendidikan untuk kalian.
Uangnya masih utuh, Mbok tabungkan di bank. Nanti akan Mbok pakai saat kalian
benar-benar membutuhkannya.”
“Kenapa Mbok waktu itu
menolak?” Luh menatap mata Mboknya. Ada kesan sendu tapi tegar di sana. Mata
Mbok jernih dan dalam.
Mbok terdiam sejenak sebelum
menjawab. “Waktu itu kalian masih kecil. Dan masih ada Agung yang bisa membantu
Mbok menjaga kalian. Mbok pikir, biarlah kalian mengenal keluarga kalian di
Bali sini dulu, nanti kalau kalian sudah besar dan memutuskan mau ikut Leonard
kuliah di Perancis, Mbok nggak keberatan.”
“Kalau Luh dan Astre kuliah di
Perancis, siapa yang menjaga Komang?”
“Ada Mbok, Ada Aji Agungmu
juga. Mbok tersenyum tulus.
Malam itu, Luh tidur dengan banyak pelajaran baru.
Malam itu, Luh tidur dengan banyak pelajaran baru.
HAPPINESS. Itulah tema lukisan untuk
Sunday Market besok. Luh langsung menemui Mahesa sesampainya di kampus. Dan
meminta maaf, terlebih atas sikapnya. Bukan sikap Komang.
“Luna.. Luna.. Kamu seharusnya
bangga sama Komang. Dia itu spesial.
Dan dia itu adik kamu.” Setelah Luh selesai bercerita semuanya, Mahesa mengacak
pelan rambut Luh.
Happiness. Apa yang akan dia
gambar ya? Mahesa dan Astre juga akan ikut menyumbang lukisan kali ini. Luh
memandang hamparan taman nan asri di depannya. Sekali lagi dia ada di sebuah
sudut The Bay Bali. Tempat favorit untuk mencari inspirasi. Bukan hanya pantai
dan pasir putih, tapi juga kesejukkan taman-taman teduh yang cantik. Pembicaran
Astre dengan Widita dan kata-kata Mbok kemarin terputar kembali di benak Luh.
Dan membuahkan sebuah coretan awal di buku sketsanya.
‘HAPPINESS COMES FROM THE
INSIDE YOU NOT THE OUTSIDE.’
BY: KADEK WIRIADUTA ASTRE
Lukisan abstrak itu
menggambarkan seorang pemuda dengan sebuah hati terbuka dengan banyak tangga
nada dan kupu-kupu warna-warni keluar dari dalam hatinya. Pemuda itu tak punya
tangan ataupun kaki, tapi itu tak menyurutkan senyum yang menggembang di
wajahnya. Luh memandang lukisan yang diminati beberapa orang itu dari jauh.
Astre dan Widita dikelilingi beberapa turis asing, yang kagum akan hasil
lukisan itu. Luh tersenyum.
“Miss, is this your drawing?
Can I buy this?” Luh berbalik dan melihat seorang turis Amerika menunjuk pada
lukisannya.
“Yes.
This is mine. But, I’m sorry, Sir, I’m not going to sell this one.” Luh menjawab
bahwa lukisannya tidak akan dijual sambil tersenyum manis.
“Oh..
Oke. However, it is very nice drawing.”
“Thank
you, Sir.” Luh makin tersenyum mendengar pujian sang turis.
“Kenapa
yang ini gak mau kamu jual?”
“Hesa!”
Luh menyapa cowok yang baru saja datang.
“Yang
ini mau aku kirim ke Perancis. Hehe..” Lukisan yang penuh nuansa pastel dan
merah itu menggambarkan potongan –potongan wajah Mbok, Ayah, Luh, Astre, Komang
dan Leonard yang Luh dapat ketika melihat album foto milik Mbok. Orang-orang di
dalam lukisan itu masih saling berangkulan satu sama lain, walaupun jarak dan
waktu memisahkan mereka.
‘Le Bonheur est appelée une Famille- the happiness is called a family.’
By:
Luh Putu LaLuna
tertulis di keterangan judul lukisan itu. Lukisan
itu adalah setumpuk kebahagian yang akhirnya dapat Luh rasakan dari pelukan
hangat sebuah keluarga. Bagaimanapun
kedaannya.
(Dear ORBIT class students; thank u for teaching me what it
means to be ‘special, I’m so blessed to be your teacher)



