Jumat, 04 April 2014

LETTERS OF HAPPINESS


Le Bonheur Est Appelée Une Famille
The happiness is called a family



“KOMAAANG...!!!” Teriakan itu membuat seorang wanita separuh baya lari tergopoh-gopoh.
“Ana apa tho, Geg? Kok pagi-pagi sudah teriak-teriak?” Wanita itu memandang cemas kepada seorang anak perempuan yang sedang membereskan tas sekolahnya.
“Mboook- Si Komang nakal. Gambar Luh dicoret-coret.” Dengan tanggannya yang kecil, Luh memperlihatkan gambar sebuah pemandangan kota yang indah. Tapi sekarang, gambar itu tertutup hampir sepenuhnya dengan coretan crayon hitam.
Gus, nggak boleh begitu sama Kakak dong.” Mbok menegur anak laki-lakinya yang hanya tertawa senang melihat hasil kerjanya. Dia tidak tahu bahwa nasib kakaknya hari itu tergantung dari hasil gambarnya. Gambar itu harus diserahkan sebagai tugas tambahan di sekolah.
“Sudah, ndak usah nangis. Jegeg bilang saja yang sebenarnya sama ibu guru ya. Mbok yakin ibu guru pasti bisa mengerti.” Mbok tersenyum manis sambil mengusap-usap rambut putrinya dengan sayang. Air mata yang tadi sudah mendesak di pelupuk mata tidak jadi keluar. Luh mengangguk kecil. Pertanda setuju dengan saran Mboknya.
*****

LUH MEMANDANG KEJAUHAN. Pada laut yang terhampar di depannya. Saat-saat seperti ini, Luh disesaki perasaan kangen. Luh kangen pada Aji-ayahnya. Ajinya yang sudah lama pergi.
 “LaLuna, udah selesai gambarnya? Kok melamun?” Sosok Mahesa menjulang di hadapan Luh. Luh tersenyum.
“Udah kok. Ini.” Mahesa memandang gambar Luh.
“Perancis lagi? Kamu memang berniat pergi ke sana ya?” Masih memandangi gambar Menara Eiffel Luh, Mahesa duduk disebelahnya.
“Hmm.. mungkin suatu saat nanti aku mau pergi ke sana. Mau lihat Perancis itu seperti apa. Mbok bilang, kota itu sangat indah.”
“Mbok kamu pernah ke sana ya?”
“Belum. Tapi ceritanya tentang Perancis sunggguh menakjubkan.”
            “Ooh..” Mahesa tersenyum. Kalau sedang berbicara tentang Perancis, wajah Luh jadi terlihat berbinar-binar. Di mata Mahesa, Luh tampak cantik sekali.
“Halo. Ya, Mbok. Apa? Oh.. Iya. Iya. Luh segera pulang. Nggak, udah selesai kok kuliahnya.” Luh menutup telponnya dan memandang Mahesa.
“Hesa. Maaf ya, aku harus pulang. Mbok butuh bantuan di rumah.” Lalu tanpa menunggu jawaban Hesa Luh segera berdiri dan pergi.
“Eh, Lun! Gambarnya?”
“Ambil aja. Buat kamu.” Luh balas berteriak tanpa menoleh. Sejak hari itu, ada gambar Menara Eiffel berbingkai kayu di kamar Mahesa.
Mbok menelepon Luh karna Komang, adik Luh kambuh lagi. Dia menjerit-jerit dan menendang-nendang ke segala arah. Mbok sudah berusaha menenangkan, tapi sekarang badan Komang sudah lebih besar dari Mbok. Jadi, sulit sekali untuk menahan Komang yang sedang tantrum. Untung Luh cepat datang. Tak lama datang juga Aji- paman- Agung dan Astre. Satu jam kemudian, Komang sudah tenang dan tertidur.

SUDAH ADA KABAR DARI LEONARD?”
Malam ini Aji Agung menginap. Aji Agung adalah adik Mbok satu-satunya. Dia belum mau menikah, padahal usianya sudah lewat setahun dari angka tiga puluh.
“Belum. Aku sudah mengirim kartu pos. Tapi yang terakir belum di balas?” Luh tidak bermaksud menguping, tapi sebuah kata “Leonard” mengusik hatinya. Siapa sih Leonard itu?
“Luh, tolong bantu aku melukis menara Eiffel ini dong..” Jantung Luh hampir copot mendengar suara adiknya di belakangnya.
“Astre!” Teriak Luh lirih. Takut ketahuan Mbok dan Aji kalau dia menguping.
“Ayo dooong. Buat tugas nih..” Akhirnya Luh mengiyakan permintaan Astre untuk membantunya mengerjakan lukisan itu.

LEONARD. Siapa dia? Kok Aji dan Mbok rasanya menyembunyikan sesuatu.
“Lun..” Luh terlonjak.
“Eeeh.. maaf, kamu kaget ya?” Wajah Mahesa dilapisi rasa bersalah.
“Hehe.. nggak kok. Aku aja yang lagi ngelamun.”
“Kamu lagi mikirin apa sih? Mbok kamu atau adik kamu?”
“Nggak apa-apa kok. Cuma lagi kepikiran Si Mbok aja.”
“O ya, soal Mbok kamu, kemarin kenapa?”
Pertanyaan Mahesa membuat Luh salah tingkah. “Eh.. eh.. nggak apa-apa kok. Eh, Hesa, aku pergi dulu ya. Aku lupa Mbok nitip sesuatu tadi. Byee..”
“Lun.. tunggu! Aku mau...” Belum selesai kalimat Mahesa, Luh sudah berlari menjauh. “... mau ngajak kamu makan bareng.” Akhirnya Mahesa menyelesaikan kalimatnya sendiri dengan lirih.


PANTAI. Selalu membuat Luh terpesona. Dan laut selalu mempunyai kekuatan magis untuk memangilnya datang dan datang lagi. Untungnya Luh tinggal di Bali, di mana pantai dan laut adalah surga yang bisa ditemukan di setiap sudut kotanya. Luh memandang ke belakangnya. Sejauh mata memandang ada hamparan pasir putih yang indah. Di kejauhan, dekat dengan pinngir laut nampak janur perkawinan khas Bali- payung bersusun tiga bernuansa emas dengan ukuran makin mengecil ke atas. Hamparan kelopak mawar merah dan pink di tengah-tengah menjadi sebuah karpet cantik sepanjang tiga meter. Di ujung hamparan karpet bunga itu, ada sebuah lengkungan setengah lingkaran penuh rangkaian bunga lily serta altar sederhana bertaplak kain putih . Kursi-kursi kayu yang unik tertata rapi di sisi kiri dan kanannya. Akan ada sebuah pernikahan. Luh tahu dari seorang turis yang menanyakan alamat tempat ini padanya. The Bay Bali. Tempat ini memang menawan. Luh tak pernah bosan kembali kemari. Bli Widana- Manajer hotel membiarkan Luh bebas ‘keluyuran’ di sekitar area The Bay Bali, karna Luh sering membawa turis-turis asing ke sini- kalau kebetulan dia jadi tour guide dadakan di biro travel milik Aji Agung. Terkadang, Luh juga membantu Bli Widana mempersiapkan event-event yang didakan di situ. Seperti Sunday Market kemarin- yang menyedot banyak turis asing- beberapa lukisan yang dipajang di pohon sepanjang pantai adalah hasil karya Luh dan Mahesa. Hmm..ini  memang tempat yang tepat untuk pernikahan romantis a la Bali, batin Luh.


“Eh.. kamu sudah tahu? Mister Leonard mau kembali lagi.”
“Mister Leonard yang itu?”
“Iya. Dengar-dengar dia mau memperistri-...”.”
 “Hush. Jangan ngomong sembarangan. Itu cuma gosip.”
Dua perempuan Bali itu pergi sambil membawa canang sari- bunga sajen untuk sembahyang- tapi kata-kata mereka tetap melekat di pikiran Luh. Leonard. Mister Leonard. Siapa sih dia? Ada hubungan apa dia dengan Mbok dan keluargaku?
*****

VERS QUEL RESTAURANT BEBEK BENGIL?
“Allez tout droit et tourner à gauche après le parc.”
“Merci.”
“De rien.”
“Duuh, yang bahasa Perancisnya makin fasih.” Luh menoleh dan mendapati Mahesa tengah nyengir lebar padanya.
“Hahaha.. biasa aja. Mereka tanya di mana restoran Bebek Bengil. Ya, aku kasih tahu dari sini lurus aja terus belok kiri setelah ketemu taman.” Luh baru saja mengantar sepasang turis Perancis ke area The Bay Bali, mereka mau mencoba restoran Bebek Bengil di situ. Katanya mereka dapat rekomendasi dari temannya yang sudah lebih dulu mampir ke situ.


“Jago.” Mahesa sambil masih tetap nyengir menaikkan jempol kanannya pada Luh.
“Apaan sih..” Luh meninju pelan bahu Mahesa sambil tertawa. Luh juga tak sepenuhnya mengerti kenapa bahasa Perancis begitu tidak asing di telinganya. Dan sepertinya memori otakknya juga facile- mudah- mengenali bahasa itu dengan baik.
“Eh.. ada proyek lukisan nih dari Bli Widana buat Sunday Market bulan ini.”
“Asyiik..” Luh sangat suka Sunday Market. Selain bisa memajang lukisannya, Luh juga bisa mendapat pernak-pernik khas Bali yang dijual di acara itu.
“Nanti aku ke rumahmu ya. Aku mau ketemu Bli dulu.” Mahesa pamit dan pergi. Luh memandang langit senja Bali. Penuh dengan warna jingga yang cerah.
Ah. Sudah waktunya pulang juga. 

“MBOK...” Mboknya yang sedang sibuk menata canang sari hanya menggumam pelan. Tanda bertanya ada apa?
“Mbok pernah dengar nama Mister Leonard?” Sekilas reaksi Mbok tak kentara. Tapi tangannya yang memengang canang sari gemetar.
“Pernah...” Suara Mbok lirih dan serak.
“Itu siapa sih, Mbok? Kok akhir-akhir ini Luh sering dengar nama itu?” Mbok membuat suara berdehem.
“Ehm, Luh.. coba tolong ambilkan dupa harum di atas meja.” Luh ingin protes. Pertanyaannya belum terjawab. Tapi, sikap Mbok yang serius menunduk dalam di atas canang sarinya membuat Luh terpaksa menurut. Walaupun dia semakin heran. Kenapa sikap Mbok jadi begitu?
“Kok kamu malah ketawa sih? Astre!” Untuk mencapai meja yang dimaksud Mbok, Luh harus melewati bale-bale di ruang keluarga. Ada adiknya- Kadek Ariaduta Astre- dan pacarnya yang memang ayu-sesuai namanya. Ni Made Ayu Widita.
“Hahaha.. abis mau ngapain lagi. Toh memang udah begitu orangnya.” Kepo. Kata-kata yang tepat buat Luh saat ini. Hehe.. Dia berhenti sebentar untuk mendengar kisah Astre.
“Hhhhh.. iya juga sih. Si Made emang dari dulu iri banget sama kamu, karna kamu rangking dua terus dan dia cuma rangking tujuh. Tapi, kok kamu nggak pernah marah sih sama dia? Dia kan suka bikin kamu susah di sekolah? Kamu happy-happy aja.” Ooh.. jadi ini tentang Si Made itu toh. Luh suka mendengar cerita Widita kalau Made ini teman mereka di sekolah, sewot berat sama Astre.
“Dita.. Dita.. kayak nggak ada hal lain yang harus aku pikirin ketimbang mikirin Si Made itu.”
Widita meangkul bahu Astre lembut, “Kamu mikirin Aji-ayah- kamu sama Komang ya?” Sekilas, wajah Astre berubah mendung. Tapi dia tersenyum saat menjawab pertanyaan Widita.
“Iya. Tapi, aku percaya Tuhan pasti punya rencana buat aku dan keluargaku. Dan itu pasti rencana yang terbaik. Kebahagian itu berasal dari dalam, Dit. Bukan dari apa yang terjadi di luar kita. Bukan dari bagaimana orang lain memperlakukan kita, tapi bagaimana kita memilih untuk tetap merasa bahagia.” Astre mengacak pelan rambut Widita yang hitam panjang. Bisa aja Si Astre, pikir Luh. Luh dan dua adiknya memang sudah kehilangan sosok Aji sejak mereka kecil. Kata Mbok Aji sudah pergi ke surga bersama bintang-bintang. Dan memang Astre tidak pernah menjadikan itu beban. Kalaupun dia pernah sangat merindukan Ajinya, dia tak pernah memperlihatkannya. Sebagai satu-satunya cowok yang bisa diandalkan dalam keluarga, dia tumbuh jadi pribadi yang kuat dan ramah.
“Aduuh!!.. Aduuh.. Ampuun.”
“Hiiiiiyaaaaatttt!! Pukul yaa.. Pukul! Di pukul ya!” Teriakan dari ruang depan sontak membuyarkan lamunan semua orang. Luh, Astre, Widita dan Mbok lari ke luar rumah. Mahesa sedang dikejar-kejar sesosok pemuda yang mirip Astre sedang memengang sapu ijuk adalah pemandangan yang menyambut mereka di luar.
“Mahesa!” Teriak Luh.
“Oh.. hai, Lun. Ini siapa ya?” Mahesa berusaha menyapa di tengah-tengah aksi pelariannya dari kejaran Komang. Adalah Astre yang mengambil tindakan pertama.
“Komang!” Astre memanggil kembarannya. Komang, karena dia adalah anak ke-tiga. Dia lahir tiga menit setelah Astre. Begitu melihat Astre, Komang berhenti mengejar Mahesa dan lari menghampiri Astre.
“Astre.. Astre.. Komang mau main. Main ya. Main. Sama Dita ya. Main ya..” Astre mengambil sapu dari tangan Komang dan tersenyum.
“Iya. Main. Ayuk masuk. Tapi Komang minta maaf dulu sama Bli.” Astre menunjuk Mahesa yang sudah agak tenang setelah berlari-lari kecil tadi.
“Maaf, Bli..” Komang mengulurkan tangan sambil menatap Mahesa dengan tatapan anak kecil yang baru saja ketahuan nakal.
“Iya. Daa daa Komang.” Mahesa menerima uluran tangan Komang sambil tersenyum.


“JADI ITU ADIK KAMU??”
Hanya anggukan kecil yang menjawab pertanyaan Mahesa.
“Kok kamu nggak pernah cerita ke aku, Lun?” Untuk yang ini, Luh cuma terdiam.
“Hesa.. kamu mau apa ke sini?” Di tanya balik begitu, Mahesa kaget. Tapi dia cepat mengendalikan diri.
“Aku mau ngomongin soal Sunday Market besok, tapi kayaknya kamu lagi sibuk. Besok aja di kampus kita ngomongnya.” Dan Mahesa pun beranjak pergi.
“Jegeg..” Mbok selalu memangil Luh Jegeg- yang artinya anak perempuan yang ayu. Setelah Mahesa pergi, Mbok duduk di sebelah Luh. Mengusap-usap rambut panjangnya.
“Kamu malu sama Komang?” Pertanyaan Mbok yang halus serasa bagai seribu tikaman pisau di hati Luh. Luh cuma bisa menjawab dengan gelengan kepala dan air mata. Mbok masih tersenyum dan mengusap-usap rambut Luh. Luh memang sering merasa kesal pada Komang yang sering bertingkah  aneh. Mematikan lampu tiba-tiba saat Luh sedang mandi atau membuka kamar Luh tanpa permisi. Meskipun tak pernah Luh berpikir dia malu punya adik seperti Komang, tapi, mungkin sikapnya pada Komang selama ini menunjukkan sebaliknya. Sedangkan Astre, tak pernah dia kesal. Dia selalu terlihat ceria dengan keadaan adik kembarnya.
“Nama Luh Putu LaLuna, Kadek Wiriaduta Astre dan satu lagi, Komang Ariaduta Arion itu dari bahasa Perancis, artinya bulan, bintang dan fajar dari timur. Ayahmu dan temannya yang memberikan nama itu. Katanya sebagai harapan bahwa kelak kalian akan bisa menerangi banyak hati.” Luh baru tahu arti namanya dan adik-adiknya. Selama ini dia hanya bertanya-tanya kenapa nama mereka agak ‘tidak biasa.’
 “Komang didiagnosis autis saat dia berusia tiga tahun. Waktu itu kamu umur enam tahun. Dan kamu suka dibuatnya kesal.” Mbok tersenyum sendiri. Memorinya kembali ke masa-masa dulu. “Komang paling sayang sama kamu. Kalau Astre sakit, dia akan menangis seharian. Tapi kalau kamu yang sakit, dia akan duduk di kursi di sebelah kamu, diam saja. Nggak mau makan, nggak mau minum. Dan nggak ada yang boleh menganggu kamu- bahkan Mbok aja nggak boleh pegang kamu.” Mbok tertawa lagi. “Ajaibnya, kamu sembuh tanpa obat, seolah-olah Komang punya mantra ajaib untuk kamu.” Luh tersenyum. Sebuah film usang diputar lagi di otaknya.
“Leonard.. dia teman ayahmu. Dia yang mengajari kamu dan Ajimu bahasa Perancis dan juga cara melihat bintang. Saat itu, si kembar baru berusia satu tahun, jadi cuma kamu yang diajari bahasa Perancis. Saat Aji meninggal, Leonard menawarkan diri menjadi suami Mbok supaya kita bisa ikut dia ke Perancis dan Komang bisa mendapat perawatan yang lebih baik. Tapi, Mbok menolak. Leonard menghormati keputusan Mbok. Sampai saat ini dia masih memberikan bantuan pendidikan untuk kalian. Uangnya masih utuh, Mbok tabungkan di bank. Nanti akan Mbok pakai saat kalian benar-benar membutuhkannya.”
“Kenapa Mbok waktu itu menolak?” Luh menatap mata Mboknya. Ada kesan sendu tapi tegar di sana. Mata Mbok jernih dan dalam.
Mbok terdiam sejenak sebelum menjawab. “Waktu itu kalian masih kecil. Dan masih ada Agung yang bisa membantu Mbok menjaga kalian. Mbok pikir, biarlah kalian mengenal keluarga kalian di Bali sini dulu, nanti kalau kalian sudah besar dan memutuskan mau ikut Leonard kuliah di Perancis, Mbok nggak keberatan.”
“Kalau Luh dan Astre kuliah di Perancis, siapa yang menjaga Komang?”
“Ada Mbok, Ada Aji Agungmu juga. Mbok tersenyum tulus.
            Malam itu, Luh tidur dengan banyak pelajaran baru.


           HAPPINESS. Itulah tema lukisan untuk Sunday Market besok. Luh langsung menemui Mahesa sesampainya di kampus. Dan meminta maaf, terlebih atas sikapnya. Bukan sikap Komang.
“Luna.. Luna.. Kamu seharusnya bangga sama Komang. Dia itu spesial. Dan dia itu adik kamu.” Setelah Luh selesai bercerita semuanya, Mahesa mengacak pelan rambut Luh.
Happiness. Apa yang akan dia gambar ya? Mahesa dan Astre juga akan ikut menyumbang lukisan kali ini. Luh memandang hamparan taman nan asri di depannya. Sekali lagi dia ada di sebuah sudut The Bay Bali. Tempat favorit untuk mencari inspirasi. Bukan hanya pantai dan pasir putih, tapi juga kesejukkan taman-taman teduh yang cantik. Pembicaran Astre dengan Widita dan kata-kata Mbok kemarin terputar kembali di benak Luh. Dan membuahkan sebuah coretan awal di buku sketsanya.


‘HAPPINESS COMES FROM THE INSIDE YOU NOT THE OUTSIDE.’
BY:    KADEK WIRIADUTA ASTRE
Lukisan abstrak itu menggambarkan seorang pemuda dengan sebuah hati terbuka dengan banyak tangga nada dan kupu-kupu warna-warni keluar dari dalam hatinya. Pemuda itu tak punya tangan ataupun kaki, tapi itu tak menyurutkan senyum yang menggembang di wajahnya. Luh memandang lukisan yang diminati beberapa orang itu dari jauh. Astre dan Widita dikelilingi beberapa turis asing, yang kagum akan hasil lukisan itu. Luh tersenyum.


  “Miss, is this your drawing? Can I buy this?” Luh berbalik dan melihat seorang turis Amerika menunjuk pada lukisannya.
            “Yes. This is mine. But, I’m sorry, Sir, I’m not going to sell this one.” Luh menjawab bahwa lukisannya tidak akan dijual sambil tersenyum manis.
            “Oh.. Oke. However, it is very nice drawing.”
            “Thank you, Sir.” Luh makin tersenyum mendengar pujian sang turis.
            “Kenapa yang ini gak mau kamu jual?”
            “Hesa!” Luh menyapa cowok yang baru saja datang.
            “Yang ini mau aku kirim ke Perancis. Hehe..” Lukisan yang penuh nuansa pastel dan merah itu menggambarkan potongan –potongan wajah Mbok, Ayah, Luh, Astre, Komang dan Leonard yang Luh dapat ketika melihat album foto milik Mbok. Orang-orang di dalam lukisan itu masih saling berangkulan satu sama lain, walaupun jarak dan waktu memisahkan mereka.
‘Le Bonheur est appelée une Famille- the happiness is called a family.’
By: Luh Putu LaLuna
tertulis di keterangan judul lukisan itu. Lukisan itu adalah setumpuk kebahagian yang akhirnya dapat Luh rasakan dari pelukan hangat sebuah keluarga. Bagaimanapun kedaannya.

(Dear ORBIT class students; thank u for teaching me what it means to be ‘special, I’m so blessed to be your teacher)


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with www.thebaybali.com & Get discovered!