Anjing itu mengejarnya.
Cepat. Cepat.. Makin cepat... Lebih
cepat....
Milly merasa kakinya melayang. Dia
berlari tanpa menyentuh tanah lagi. Dia berlari tanpa tahu ke mana arahnya,
tanpa melihat sekeliling. Sayang juga sebenarnya...
Pohon-pohon pinus berjejer membuat pagar di
sekelilingnya. Saat itu pasti musim semi, beberapa pohon berbunga menampilkan
mahkota-mahkotanya yang indah. Bau di sekitarnya campuran bau pinus, tanah
lembab dan wangi bunga. Wangi manis yang lembut.
Tapi Milly tak menikmati semua itu.
Dia berlari dan terus berlari.
Sekali dia menoleh ke belakang. Anjing itu masih mengejarnya. Anjing itu jenis
Siberian Husky. Warna bulunya yang putih bersih kontras dengan warna cerah yang
ada di sekitarnya. Anjing itu sebenarnya.... tampan. Matanya yang tajam
terbingkai bulu abu-abu. Badannya kokoh dan atletis. Sangat cocok untuk di
jadikan anjing penjaga. Tapi bukan untuk mengejarmu seperti ini.
Guk. Guk.
Milly mempercepat larinya.
Anjing itu menyalak lagi. Milly
reflek menoleh. Jarak diantara mereka tak lagi jauh. Milly merasa kakinya yang
telanjang mulai sakit. Gaun bunga-bunganya berkibar setiap kali dia melangkah.
Dia mulai kehabisan tenaga. Dadanya sakit.
Guk! Guk!
Hanya salakan anjing itulah yang
membuat Milly tetap bertahan, terus berlari. Dia nggak bisa membayangkan apa
jadinya kalau dia sampai tertangkap.
Milly merasa jarak mereka semakin
dekat. Dia bisa merasakanya. Dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, dia
bsa merasakan nafasnya memburu. Langkah di belakangnya makin cepat. Milly
seperti merasa nafas si anjing menyatu dengan udara di sekelilingnya. Semakin
medekat, semakin jelas. Pada detik-detik terakhir, dia menoleh sekilas. Tepat
pada saat anjing itu megambil ancang-ancang untuk menangkap dirinya. Tubuhnya
direngangkan,kaki depannya terangkat bertumpu pada dua kaki belakang. Milly
menoleh lagi.
Dia terdiam. Kakinya menempel erat
di tanah. Tatapannya terpaku pada sosok si anjing yang terbang tepat ke
arahnya. Saat anjing itu menerjangnya, Milly merasakan tubuhnya jatuh ke tanah
yang lembek. Dia merasakan tubuh si anjing di atasnya, menindihnya. Dia
merasakan nafas si anjng diwajahnya. Bulunya yang halus dan lidahnya yang basah
memenuhi wajahnya. Anehnya apa yang ditunggunya tak terjadi. Dia menunggu si
anjing menancapkan taringnya, tapi itu tidak terjadi. Si anjing malah
menjilatinya dengan sayang...
Kriiing.
Milly menajamkan telinganya.
Kriiing.
Suara itu lagi, dia tidak salah dengar. Itu
suara telpon. Otaknya bekerja, mana ada telpon di hutan seperti ini?
Benar, itu suara telponnya. Dia
berusaha bangkit dan duduk. Si anjing rebah di sebelahnya sambil menjulurkan lidah.
Dia melihat sekitar, mencari ke sekeliling sementara dering telpon itu terus
terdengar.




