Minggu, 28 September 2014

KOPI, BUKU DAN SEPASANG PERI SALJU


KOPI, BUKU DAN SEPASANG PERI SALJU

HUKUM tidak tertulis di asrama ini: kalau kamu pakai baju pink saat ada yang sedang presentasi, itu artinya kamu mengungkapkan perasaanmu padanya. Dan, aku bahkan tidak tahu bahwa hukum itu berlaku walaupun sudah satu bulan ada di asrama ini. Asrama ini terletak di sebuah lahan luas di luar kota dengan pemandangan yang sangat indah. Udaranya bersih- nggak seperti di kota yang banyak polusi- tempatnya tenang dan nyaman. Sebenarnya aku akan senang tinggal di sini. Tapi, sepertinya banyak yang harus aku pelajari.
“Sophie.. jadiii.. kamu naksir Andrew? Kok aku baru tahu ya?” Pertanyaan itu tidak akan terasa menganggu kalau saja tidak ditanyakan oleh Marissa, sahabatku sendiri.
“Nggaaakkk, Mariiiisssaaa...” jawabku menahan kesabaran yang sudah hampir di titik nol.
“Terus..ngapain kamu pake baju pink waktu dia presentasi?”
“Mana aku tahu kalau ada peraturan konyol kayak gitu di sini? Lagian bajuku yang lain belum kering.” Peraturan lain: cuci, jemur dan setrika bajumu sendiri. Dan karna, aku agak malas mencuci setiap hari, akhirnya cucianku menumpuk di akhir pekan. Marissa hanya tertawa melihat aku cemberut. Dia sangat manis kalau tertawa, sebetulnya dia sangat manis dalam keadaan apapun. Marissa sangat cantik dan lembut, pintar juga. Mungkin kalau aku bukan temannya, aku akan jadi musuhnya, karna iri setengah mati.
“Haha.. you know what? Everybody is getting a bit excited.” Marissa menggodaku.
Mmm.. iya juga. Tadi pagi, setelah Andrew selesai presentasi, semua langsung heboh. Semua orang mengira aku naksir sama dia. Sebagian orang memberi selamat karena aku begitu berani mengungkapkan perasaan. Sebagian lagi sebel banget karena merasa keduluan. Mereka nggak tahu, kalau aku menyesal memakai baju pink hari itu...

DIA selalu berkutat dengan dunianya. Kalau nggak lagi sama Marissa, dia pergi ke cafetaria. Dan yang dia pesan selalu sama, white chocolate mocca with mint blend- kalau hari hujan dia akan memesannya panas, tapi kalau cuaca cerah dia akan memintanya dingin. Atau, dia akan duduk diam di sudut taman yang kosong dan membaca buku. Kalau sudah begitu, dia akan benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri.
Sebenarnya, aku tidak terlalu mengenalnya. Bahkan bisa dibilang aku bukan temannya. Tapi, tiba-tiba dia memakai baju pink itu di hadapanku saat aku sedang presentasi. Aku.. cukup kaget. Well, aku tidak mengira dia memperhatikan aku- juga. Eeh.. bukannya aku memperhatikan dia lho, tapi Robin- sepupuku yang juga sobatku di asrama ini- naksir berat sama Marissa. Setiap hari yang jadi bahan pembicaran hanya Marissa, Marissa dan seorang Marissa. Atau... dia karena dia sering- bahkan selalu bersama Marissa. Kalau nggak salah namanya ...

“SO-PHI-AA!”
Hah? Aku mengedipkan mata sebentar. Barusan sepertinya ada yang memanggil namaku.
“Sophie.. bumi memanggil nih.” Aku menengadah dan melihat Marissa memandangku dengan putus asa.
“Eeh.. sory ya.. hehe..” Oke. Sepertinya aku sudah terlalu lama duduk diam dan membaca buku. Marissa pasti sudah memanggil-manggilku dari tadi.
“Makan yuk.. lapar nih..” Marissa memijat pelan perutnya yang rata, yang membuat banyak cewek iri.
“Oke..” Aku bangkit. Membereskan buku dan white chocolate mocca mint blend-ku sebelum temanku ini jatuh pingsan karena kelaparan.

SATU hal yang aku tahu tentang dia, tanpa embel-embel Marissa adalah bahwa dia begitu kikuk dan kalau sudah salah tingkah, dia akan melakukan kebodohan beruntun. Seperti hari ini. Dia tampak sangat terkejut saat masuk dan mendapati aku duduk di cafetaria bersama Robin. Dia lalu hanya mengekor Marissa dan mengangguk-angguk pada apapun yang Marissa katakan. Akhirnya, dia tidak melihat kalau Marissa tiba-tiba berhenti dan menubruknya dari belakang, membuat nampan makan siang berisi mie ayam tumpah. Dan dasar kikuk, dia terlalu panik dan malah jatuh terpeleset karna lantai yang licin. Dan makin parah saat aku dan Robin menghampiri untuk membantu. Saking malunya, juga karna kedatanganku, dia berusaha membereskan mangkok yang pecah secara buru-buru dan sukseslah tangannya kena pecahan beling. Owwh.. O ya, omong-omong namanya Sophia.

OUCH. Perih. Aku nyengir menahan perih di jariku yang terkena beling tadi. Perih dan malu. Kok bisa-bisanya sih aku bodoh dan kikuk banget, di depan Andrew lagi. Bukannya aku peduli- tapi.. yaaah.. karna ‘hukum baju konyol’ itu, aku jadi kikuk setiap kali ketemu dia. Mmm.. kenapa sih ada hukum konyol kayak gitu? Terus kalau sampai salah orang gimana? Kalau ada lebih dari satu orang yang pake baju pink di saat yang sama terus gimana? Apa iya harus pilih salah satu dan membuat yang satu lagi broken heart? Atau lebih parah lagi, kalau orang itu nggak tahu apa-apa tentang peraturan konyol itu, terus gimana? Seperti aku. Aku kan nggak bermaksud,  bahkan sama sekali nggak suka Andrew. Yang aku dengar tentang dia hanya beberapa selentingan berita tentang betapa kerennya dia dari Marissa. Jangan salah ya, Marissa nggak naksir Andrew tapi dia naksir sama Robin, sepupunya Andrew. Dan sepertinya, Robin juga naksir dia. Aaaakhh... tapi tetap aja, kejadian di cafetaria tadi bikin malu. Kenapa sih aku bisa sekikuk itu?? Duuh.. gimana coba pendapat Andrew tentang aku? Cewek kikuk yang kutu buku. Atau cewek aneh yang suka ‘menghilang’ kalau lagi baca buku. Atau.. jangan-jangan.. dia pikir, aku beneran naksir dia! Oh no! kenapa juga aku peduli apa pendapatnya tentang aku??
Aduuh.. jariku perih..

            SOPHIA. Dia tinggal dengan neneknya, yang merawatnya sejak kecil. Kedua orang tuanya sedang tugas di luar negeri. Mereka adalah sepasang peneliti lingkungan hidup. Sophia di sini ke sini karna dia akan menyusul orang tuanya di German untuk meneruskan S2. Sama seperti kami semua di sini. Asrama ini memang salah satu program untuk persiapan kuliah bagi para penerima beasiswa dari pemerintah. Aku dan Robin memilih Inggris dan Marissa akan memilih Jepang.
Dia. Dia memang kikuk, suka kopi dan buku, kadang sedikit aneh kalau lagi tenggelam dalam bukunya- tapi dia manis kok dan lucu juga. Itu pendapatku.. Eh.. tunggu dulu! Apa yang barusan aku bilang??

            “MAARIISAAA!!”  Marissa kaget. Oke. Bukan cuma Marissa, tapi juga Robin, Andrew dan seluruh penghuni cafetaria saat itu. Tapi.. I don’t care. Hehe..
            “Kenapa, Soph? Kamu sakit? Atau ada yang luka? Mana? Mana?” Marissa bangkit dari kursinya dan memandangku dengan cemas.
            “Nggak kok. Tenang-tenang..” Aku berusaha menenangkan Marissa dan diriku sendiri. Karna langsung belari dari lantai dua, nafasku putus-putus.
            “Kenapa sih?” Robin ikutan cemas. O ya, aku udah bilang belum kalau sekarang Robin dan Marissa makin dekat? Kita jadi sering nongkrong bareng. Tapi, tetap aja kekikukanku kalau dekat-dekat Andrew belum hilang sepenuhnya. But, well.. back to the topic. Menjawab pertanyaan Robin, aku mengeluarkan flyer yang aku print di perpustakaan tadi.
            “Ini. Dia di sini. Ada fans meeting. Aku bisa dapetin tanda tangannya.” Aku menjawab menggebu-gebu. Dan keantusiasanku di balas dengan tiga pandangan kosong yang penuh tanda tanya.
            “Apa itu? Siapa yang mau ke sini?” Robin menyuarakan kebinggungan yang lain.
            “Laura Davin. Pengarang buku Sepasang Peri Salju, buku yang akhir-akhir ini membuat Sophie ‘menghilang’ di dunianya sendiri.”
            “Hehe..” Penjelasan Marissa membuatku nyengir. Seratus persen benar.
            “La..u ra Da..vin? Itu bukannya.. Aduh..”
            “Hah? Siapa?” Aku dan Marissa yang gantian memandang Robin dan Andrew dengan heran.
            “Hehe..bukan kok..” Robin hanya nyengir dan Andrew buang muka.
Huh. Siapa coba yang aneh?

            UNTUNG aja Robin nggak keceplosan.  Untungnya dia menangkap maksud sikutanku di rusuknya dan berhasil tutup mulut di saat yang tepat. Walaupun sepertinya, aku menyikut agak terlalu keras. Dia masih mengaduh kesakitan saat kami tiba di kamar. Hehe.. maaf ya, Rob..

            “JADI, kapan fans meetingnya?” Marissa bertanya dari kasurnya. Lampu kamar sudah setengah jam lalu dimatikan. Tapi kami belum mulai tidur. Aku terlalu bersemangat dengan datangnya Laura Davin. Kalau Marissa, dia lagi pakai masker malamnya.
            “Laura Davin? Dua minggu lagi.”
            “Dua minggu lagi..? Ada apa ya??” Marissa seperti sedang berpikir keras. Iya. Dua minggu lagi. Memangnya ada apa dengan dua minggu ke depan? Setiap Sabtu dan Minggu, kami bebas keluar asrama seharian penuh. Tapi, kalau hari Minggu kami harus kembali ke asrama sebelum jam sebelas malam. Kalau sampai lewat jam malam bisa mendapat sangsi dan mengurangi poin penilaian.
            “Mmm.. kayaknya nggak ada apa-apa deh.” Putus Marissa setelah berpikir keras. “Aku mau beresin masker dulu trus tidur. Mulai ngantuk nih.” Marissa bangun dan menuju kamar mandi. Aku juga mulai ngantuk. Mungkin karna lega. Marissa nggak pernah salah dan lupa sesuatu. Berarti, dua minggu lagi aku aman untuk pergi.

            SALAH. Salah semua! Salah besar!
            Dua minggu lagi itu, tepatnya hari ini adalah hari FunHealth Day- acara bakti sosial untuk anak-anak kurang mampu. Program rutin asrama setiap dua bulan sekali, dan kali ini acaranya jatuh di hari yang sama dengan datangnya Laura Davin. Owh.. kenapa Marissa bisa sampai lupa? Karena dialah yang paling sibuk buat ngurusin acara ini , sampai nggak kepikiran hal yang lain. Dari pagi, aku udah kayak cacing kepanasan. Berkali-kali liat jam, memandang ke tempat jauh dengan cemas. Bertanya-tanya kapan acaranya selesai. Sepertinya Marissa nggak menyadari kecemasanku. Dia sibuk mondar-mandir, mengurus ini itu. Akhirnya, tepat pukul lima acara FunHealth Day selesai, tapi aku masih belum bisa pergi. Kami masih harus beres-beres dan evaluasi. Jam tujuh, aku ngebut naik sepeda ke arah kota, tempat acara fans meeting itu diadakan.

            OKE. Aku bukan penakut. Bukan juga pengecut. Aku nggak percaya sama hal-hal ‘macam itu’, tapi yang ini terlalu ‘nyata’ untuk disepelekan. Angin lumayan kencang berhembus, daun-daun yang bergoyang membuat pantulan aneh di dinding. Dan aku merasa bulu tengukku meremang. Tanpa dikomando, jantungku berdetak kencang. Aku tahu ada sesuatu di belakangku. Seseuatu atau seseorang.. atau semacam ‘itu’.. dan aku merasakan ‘itu’ makin mendekat..makin dekat.. aku berusaha tenang..”Cool Andrew.. Cool..” Aku mengingatkan diriku sendiri. Krak. Bunyi ranting patah di belakangku membuatku berjengit. Tapi cukup sudah. Aku tahu pasti dia adalah makhluk padat. Dan aku berbalik, bersiap menghadapi pencuri itu. Siap.. siap.. dan..

            OH NO! No. No and no! Ini udah lewat setengah jam dari jam sebelas. Aku sudah benar-benar telat. Marissa pasti cemas karna aku belum kembali. Aku memutar jalan lewat belakang. Satu-satunya pintu rahasia untuk masuk ke asrama. Pelan. Pelan. Ups.. aku menginjak ranting. “Tenang Sophie. Tenang.” Aku diam. Mendengarkan. Sepertinya tidak ada yang mendengar suara ranting patah barusan. Lalu, aku maju selangkah.. selangkah.. Tinggal berbelok di sudut itu dan aku sampai di asrama. Oh no..!

            HIDUP itu aneh. Aku nggak pernah membayangkan kalau akan punya sebuah rahasia kecil dengan cewek aneh kutu buku penggemar kopi. Yaah.. dia sedikit manis sih. Well, intinya.. I have her secret in my hand. And don’t know why, it makes me feel.. happy. Just can’t erase the smile on my face.

            “HMMM.. sejak kapan ada kodok di halaman belakang?” Marissa memasang tampang polos, tapi aku tahu dia sedang menggodaku habis-habisan. Saat itu, di kamar. Sehari setelah fans meeting dengan Laura Davin. Marissa tahu banget, nggak ada kodok atau binatang amphibi apapun juga di sekitar asrama. Jadi, kalau tiba-tiba ada suara-suara aneh, itu pasti sesuatu.
            “Marissa...” Aku sudah putus asa membujuk Marissa untuk berhenti menggodaku.
            “Jadi, siapa yang membantumu masuk tadi malam?”
            “Andrew...” Jawabku pelan.
            “Andrew?!”
            “Iya.. Dia lagi kebagian tugas jam malam kemarin.”
            “Ooh.. Dan suara kodok itu?” Aku terdiam. Sepertinya agak terlalu lama. Karna Marissa terlihat cemas. “Sophie..?”
            “Mmm.. itu aku..” Tatapan heran di wajah Marissa membuat mukaku yang panas semakin panas. “Aku.. sendawa.. karna masuk angin.. Terus..”
            “Terus..?”
            “.. terus Andrew sengaja bikin suara kodok, biar suara sendawaku nggak terlalu kedengaran.” Aku langsung menunduk, membenamkan mukaku di bantal. Perlu waktu semenit buat Marissa mencerna ceritaku dan...
            “Hahahahaha... Hahahahaha...” Marissa tertawa sampai mukanya merah juga. Aku nggak berani mengangkat mukaku dari bantal.
           
            SUDAH dua minggu ini, aku tidak melihat dia di manapun. Dia cafetaria, di taman ataupun di sekeliling asrama ini.  Yang pasti bukan karna kejadian waktu itu yang bikin dia malu dan nggak mau ketemu aku lagi. Tapi karna ujian negara yang harus kami jalani setiap tiga bulan sekali. Dan bukan hanya dia yang menghilang, tapi juga Robin, Marissa dan bahkan aku. Kami semua berkonsentrasi untuk ujian ini. Omomg-omong, fans meetingnya gagal. Yaah.. bukan gagal aacranya, tapi dia sampai di sana pada detik-detik terakhir dan hanya sempat sekilas melihat penulis idolanya itu. Nggak sempat lagi minta tanda tangan. Mybe.. I can do something. After we all finish our own battle on this exam.

            YESS! Yess! Selesai sudah perjuangan selama dua minggu. Nggak ada lagi belajar sampai pagi-pagi buta. Nggak ada lagi ngumpet di sudut perpustakaan buat ngerjain paper dan nggak ada lagi menahan keinginan untuk duduk di sudut taman dan membuka buku Sepasang Peri Salju dengan dihantui sedikit persasaan bersalah. Intinya, aku sudah BEBAS. Be-bas. Hehe.. Dan punya waktu untuk merenungi- menyesali kegagalan waktu itu. Gagal ketemu langsung dan minta tanda tangan Laura Davin buat bukuku. Mmm.. mungkin nanti akan ada fans meeting lagi, dengar-dengar dia lagi mengerjakan buku baru. Apa ya judulnya ya? Gimana ceritanya, tokohnya. Dan kalau ada fans meeting lagi, aku akan benar-benar memastikan jadwalku kosong- dengan mataku sendiri. Biar nggak jadi seperti maling, malam-malam menyelinap dan biar nggak kepergok lagi sama.. Andrew. Eeh.. harusnya aku berterima kasih sama dia, karena sudah membantu malam itu. Tapi, karna sibuk dengan segala urusan ujian ini aku bahkan belum ketemu dia lagi.. Hmm.. kasih apa ya?

            “ANDREW? Kenapa kamu tiba-tiba tanya-tanya soal dia?” Aku menunduk, menolak menatap mata Marissa.
            “Mmm.. nggak apa-apa..” Suaraku makin menghilang. Sebenarnya, dari awal aku nggak yakin kalau ini ide yang bagus.
            “Kamu.. beneran.. naksir.. dia?” Sekarang bukan hanya tatapan Marissa yang menyelidik, suaranya juga.
            “Nggak!” Jawabku cepat sambil mennatap Marissa. Terlalu cepat. Hhh.. tarik nafas sebentar, “Nggak, Mar.. aku..eemmm.. kepikiran aja untuk kasih dia sesuatu, karena kemarin dia udah bantuin aku.”
            “Oh.. itu..” Marissa tersenyum. “Hmm.. kalau kata Robin sih dia suka..”

            BUNGKUSAN biru itu aku taruh di atas meja. Isinya, robot Transformer terbaru. Akh.. man will always be a boy sometimes. Iya. Itu hadiah buat Andrew. Mainan yang paling dia cari-cari. Udah terbungkus rapi siap untuk diberikan, besok saat hari terakhir sebelum libur panjang. Sekarang, waktunya santai. Aku mengambil buku favoritku, yang aku taruh di atas.. di atas.. Lho? Kok nggak ada? Aku yakin terakhir kali aku taruh di atas laptopku. Cari. Cari. Gali.Gali. Buku itu nggak boleh hilang! Cari. Cari.. tapi.. tapi.. Di mana buku ku???

            PENCURI atau penculik. Mungkin itu sebutan yang cocok untukku saat ini, tapi nggak akan pernah aku jadikan profesi. Buku yang sudah ratusan kali aku lihat ada di tangannya, sekarang ada di tanganku. Dan, sebentar lagi akan bepindah tangan lagi. Tapi, nggak akan lama. Tenang buku sayang, sebentar lagi kamu akan kukembalikan pada pemilikmu. Tapi sebelumnya, aku harus menelepon dulu.

            HEBOH. Terjadi kehebohan. Ada air mata, isak tangis dan berlembar-lembar tissue. Persis sinetron yang nggak pernah aku tonton. Bukuku hilang. Dan itu adalah kesedihan fatal. Aku yakin aku udah taruh di tempat biasa aku menaruhnya, tapi sampai aku membongkar ulang barang-barang yang sudah kukemas rapi di koper, buku itu tetap tidak ketemu. Raib. Hilang. Bagai ditelan bumi. Duuuh.. bukuku sayang, di mana kamu?

            Well.. aku merasa bersalah juga, melihat dia sampai sesedih itu. Aku baru tahu, ternayata buku itu sepenting itu buat dia. Tapi, agaknya dia sedikit berlebihan. Dasar drama queen. Hehe.. tapi aku harus tega, karna aku tahu, nantinya dia akan tersenyum lebar setelah apa yang akan aku lakukan berhasil. And, I can’t wait to see her smile.

            SIAPA sih, orang iseng yang mau menculik sebuah buku. Yaah, walaupun buatku itu bukan hanya sekedar sebuah buku. Berarti penculik itu tahu betapa berharganya buku itu buatku. Jadi, siapa yang berani-beraninya menculik buku itu? Marissa. Robin. Andrew? Sambil sibuk berspekulasi, aku sudah sampai di tempat yang ditunjukkan si penculik buku lewat surat kaleng yang aku terima tadi pagi.
Sepasang Peri Salju. Perpustakaan lantai dua. Jam satu tepat.
Itu dia. Bukuku. Tergeletak manis di atas meja. Sambil mendekat, aku menoleh ke sana- ke mari, siapa tahu aku akan dapat kejutan selanjutnya. Tapi, sepertinya perpustakaan ini sepi. Aku menghampiri bukuku. Mengambilnya. Eh.. ternyata ada buku lain di bawahnya. Ini kan..? Eh, ada kertas yang jatuh.. Ini..

            BETUL kan? Dia tersenyum lebar. Manis banget. Dia benar-benar tenggelam dalam bukunya, sampai tidak menyadari ada orang yang mengawasi. Dasar kutu buku. Aku juga menikmati tatapan kagetnya sesaat. Dan juga raut wajah bengongnya yang celingak-celinguk ke sana-ke mari. Di tambah lagi ada robot Transformer terbaru di tanganku. Hem.. I can smile all day long. Aakh.. liburan kali ini pasti akan seru.
           
            LAURA Davin. Ada tanda tangan Laura Davin di bukuku. Aku diam. Kaget. Tak percaya. Sebentar aku mematung, lalu aku menoleh ke sana-ke mari untuk mencari.. entah siapa. Tapi tetap tak ada siapa-siapa di sini. Aku lihat lagi bukuku. Ada tanda tangan dan.. sebuah catatan.
Dear Sophie and Andrew Davin- pangeran kecilku, kalian adalah Sepasang Peri Salju di duniaku. Terima kasih untuk semuanya ^^
Andrew.. Da-vin? Pangeran kecilku? Dia.. dia.. anak Laura Davin? Pikiranku masih belum mencerna informasi itu, tapi sesuatu membuatku mengingat suatu kejadian saat.. saat Robin tiba-tiba mengaduh. Akh, jadi itu. Di bawah buku lamaku, ada sebuah buku baru berwarna gardasi biru langit dan merah marun. Love Never Fails by Laura Davin. Aku membukanya, dan menemukan namaku, Sophie tercetak di sana.
For Sophie and Andrew, love never fails- true love will always find it way (piknky dress )
Upps.. aku kembali di ingatkan kejadian salah pakai baju dan hukum konyol itu. Juga kejadian-kejadian setelahnya. Heeh.. siapa sangka Andrew bakal cerita ke Mamanya soal itu. Huh. Anak Mama. Tapi, aku mendapati diriku tersenyum, ternyata itu lucu juga ya.. Eeh.. ada yang jatuh. Kartu pos?
Hi Soph.. thank you for the Transformer. Aku udah lama cari-cari mainan itu, tapi selalu kehabisan. Hehe.. And, sorry for your book. Yeah.. Aku yang ‘menculik’ buku itu. Aku mau menodong tanda tangan Mama buat bukumu- untungnya berhasil. Hope you like it. Lain kali, kita duduk bareng di taman. Kalau kamu sibuk dengan buku barumu, aku akan asyik dengan Transformerku ^^. Hmm.. mungkin bisa juga sambil minum white chocolate mocca mint blend.
So, see you soon.
 Andrew.

            CEWEK aneh. Suka minum kopi white chocoate mocca mint blend. Cewek kutu buku. Suka menghilang di dunianya sendiri kalau lagi baca buku. Suka melakukan kebodohan beruntun kalau sedang kikuk. Cewek aneh.. yang manis.. Yaaah,. Iya dia manis. Dan sepertinya aku.. akan mengejarnya.

            ANDREW.. Davin.. dia.. sepertinya lumayan juga. Kapan ya dia presentasi lagi? Sepertinya aku akan pakai baju pink itu lagi. But, now.. I meant it.

The End