Selasa, 25 Juni 2013

MILKY WAY- prolog


Anjing itu mengejarnya.
            Cepat. Cepat.. Makin cepat... Lebih cepat....
            Milly merasa kakinya melayang. Dia berlari tanpa menyentuh tanah lagi. Dia berlari tanpa tahu ke mana arahnya, tanpa melihat sekeliling. Sayang juga sebenarnya...
Pohon-pohon pinus berjejer membuat pagar di sekelilingnya. Saat itu pasti musim semi, beberapa pohon berbunga menampilkan mahkota-mahkotanya yang indah. Bau di sekitarnya campuran bau pinus, tanah lembab dan wangi bunga. Wangi manis yang lembut.
            Tapi Milly tak menikmati semua itu.
            Dia berlari dan terus berlari. Sekali dia menoleh ke belakang. Anjing itu masih mengejarnya. Anjing itu jenis Siberian Husky. Warna bulunya yang putih bersih kontras dengan warna cerah yang ada di sekitarnya. Anjing itu sebenarnya.... tampan. Matanya yang tajam terbingkai bulu abu-abu. Badannya kokoh dan atletis. Sangat cocok untuk di jadikan anjing penjaga. Tapi bukan untuk mengejarmu seperti ini.
            Guk. Guk.
            Milly mempercepat larinya.
            Anjing itu menyalak lagi. Milly reflek menoleh. Jarak diantara mereka tak lagi jauh. Milly merasa kakinya yang telanjang mulai sakit. Gaun bunga-bunganya berkibar setiap kali dia melangkah. Dia mulai kehabisan tenaga. Dadanya sakit.
            Guk! Guk!
            Hanya salakan anjing itulah yang membuat Milly tetap bertahan, terus berlari. Dia nggak bisa membayangkan apa jadinya kalau dia sampai tertangkap.
            Milly merasa jarak mereka semakin dekat. Dia bisa merasakanya. Dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, dia bsa merasakan nafasnya memburu. Langkah di belakangnya makin cepat. Milly seperti merasa nafas si anjing menyatu dengan udara di sekelilingnya. Semakin medekat, semakin jelas. Pada detik-detik terakhir, dia menoleh sekilas. Tepat pada saat anjing itu megambil ancang-ancang untuk menangkap dirinya. Tubuhnya direngangkan,kaki depannya terangkat bertumpu pada dua kaki belakang. Milly menoleh lagi.
            Dia terdiam. Kakinya menempel erat di tanah. Tatapannya terpaku pada sosok si anjing yang terbang tepat ke arahnya. Saat anjing itu menerjangnya, Milly merasakan tubuhnya jatuh ke tanah yang lembek. Dia merasakan tubuh si anjing di atasnya, menindihnya. Dia merasakan nafas si anjng diwajahnya. Bulunya yang halus dan lidahnya yang basah memenuhi wajahnya. Anehnya apa yang ditunggunya tak terjadi. Dia menunggu si anjing menancapkan taringnya, tapi itu tidak terjadi. Si anjing malah menjilatinya dengan sayang...
            Kriiing.
            Milly menajamkan telinganya.
            Kriiing.
             Suara itu lagi, dia tidak salah dengar. Itu suara telpon. Otaknya bekerja, mana ada telpon di hutan seperti ini?
            Benar, itu suara telponnya. Dia berusaha bangkit dan duduk. Si anjing rebah di sebelahnya sambil menjulurkan lidah. Dia melihat sekitar, mencari ke sekeliling sementara dering telpon itu terus terdengar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar